iklan: peluang bisnis di singa-aceh.net

Stereotip

// August 21st, 2007

Ketika aku nongkrong sama kawan-kawan di kampus, membicarakan manusia dan kehidupan menjadi topik yang sangat menarik untuk didiskusikan. Tapi kenapa ada saja masalah dalam diskusi itu, tapi bukankah masalah justru membuat diskusi kita hidup dan bermakna?

Salah satu masalahnya seperti yang dikatakan oleh kawanku berikut ini:

Ah.. mana ada orang-orang Pidie itu pelit, susah berkawan sama mereka. Lalu ada yang nyeletuk, orang Aceh Besar apa bedanya, mereka anak-anak manja, nggak pernah merasakan jauh dari orang tua, jadinya nggak mandiri, macam anak mami.

Pada kasus yang lain:

Batak sialan, udah jorok, suka makan anjing, ngomongnya keras-keras lagi. Kawan yang satunya lagi meneruskan. Daripada orang Jawa, munafek, suka ngomong di belakang, padahal ia nggak tahu masalahnya apa.

————————–

Wah… kayaknya diskusi udah nggak sehat, bukannya aku mengalah dalam debat ataupun argument yang kurang mantap. Tapi kalau memang diskusinya di arahkan seperti itu, pastinya Cuma buang-buang waktu untuk melayani orang-orang berfikiran stereotip.

Kadang kita tidak sadar kalau pembicaraan yang kita komunikasikan kepada orang lain adalah suatu stereotip yang murahan. Kenapa kita mesti stereotip terhadap sesuatu hal??. Kita harus memahami terlebih dahulu apa itu stereotip.

Secara bebas, stereotip dapat di artikan sebagai suatu upaya baik perkataan maupun pikiran memklaim, atau memberikan cap kepada sesuatu atau seseorang dengan tanpa melihat lebih dalam apa yang telah di cap atau di klaim tersebut.

Hehehe… macam ahli linguis aja nih.. Tapi yang sederhananya, stereotip itu adalah kita mencap sesuatu atau seseorang senaknya kita aja.

 

Kita pasti pernah ketemu dengan orang pelit, tapi kita nggak berhak untuk  menyalahkan semua orang yang ada didekatnya. Bagaimana mungkin seseorang yang pelit bisa dilihat dari segi dimana ia dilahirkan. Lingkungan memang membentuk mental dan kepribadian seseorang, tetapi kita bisa mengkambing hitamkan suatu lingkungan dimana seseorang berada sebagai biang kerok keburukan seseorang.

 

Ketika kita akan dilahirkan ke bumi ini, kita nggak pernah minta dilahirkan di Pidie atau  di Aceh Besar bahkan tempat lainnya. Kita juga tidak penah ngomong, “ya Tuhan jangan lahirkan aku dari rahim seorang Batak, atau punya ibu seorang Jawa”. Lingkungan hanya tempat seseorang bertumbuh dan berkembang membentuk karakter dan mental seseorang.

 

Pelit, sombong, angkuh, serakah, takabur, dan lain-lain merupakan sebagian kecil penyakit sosial yang tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat. Penyakit ini muncul dari ketidakstabilan mental yang ia terima dari lingkungannya.

 

Stereotip juga salah satu masalah. Dengan stereotip kita akan menganggap diri kita lebih baik dari orang lain. Padahal dengan stereotip, potensi konflik yang akan timbul akan lebih besar dari yang pernah kita bayangkan.

 Alangkah lebih indahnya jika sikap dan pikiran kita diarahkan kepada hal-hal yang lebih positif.

Dengan stereotip, membuktikan bahwa kita adalah seorang pengecut, yang tidak bisa menerima kenyataan. Ia hanya bersembunyi di dalam pikirannya yang kerdil, yang hanya memikirkan bahwa dunia ini sebesar daun kelor.


Tagged My Mind

3 Responses to “Stereotip”

  1. alex Says:

    Dengan stereotip, membuktikan bahwa kita adalah seorang pengecut, yang tidak bisa menerima kenyataan. Ia hanya bersembunyi di dalam pikirannya yang kerdil, yang hanya memikirkan bahwa dunia ini sebesar daun kelor.

    U got it right, brother!
    Stereotip itu memang memuakkan. Lebih parah dari generalisasi™ yang sering juga kita temui.
    Kadang2 yang mengesalkan, itu lebih ke masalah pribadi tapi terbawa-bawa pada generalisir…

    :mad:

  2. eka Says:

    generalisasi™

    sejak kapan jadi trade marknya. :D

  3. Henrietta Says:

    a matter of luck,

Leave a Comment