Ketika aku nongkrong sama kawan-kawan di kampus, membicarakan manusia dan kehidupan menjadi topik yang sangat menarik untuk didiskusikan. Tapi kenapa ada saja masalah dalam diskusi itu, tapi bukankah masalah justru membuat diskusi kita hidup dan bermakna?
Salah satu masalahnya seperti yang dikatakan oleh kawanku berikut ini:
Ah.. mana ada orang-orang Pidie itu pelit, susah berkawan sama mereka. Lalu ada yang nyeletuk, orang Aceh Besar apa bedanya, mereka anak-anak manja, nggak pernah merasakan jauh dari orang tua, jadinya nggak mandiri, macam anak mami.
Pada kasus yang lain:
Batak sialan, udah jorok, suka makan anjing, ngomongnya keras-keras lagi. Kawan yang satunya lagi meneruskan. Daripada orang Jawa, munafek, suka ngomong di belakang, padahal ia nggak tahu masalahnya apa.
————————–
Wah… kayaknya diskusi udah nggak sehat, bukannya aku mengalah dalam debat ataupun argument yang kurang mantap. Tapi kalau memang diskusinya di arahkan seperti itu, pastinya Cuma buang-buang waktu untuk melayani orang-orang berfikiran stereotip.
Kadang kita tidak sadar kalau pembicaraan yang kita komunikasikan kepada orang lain adalah suatu stereotip yang murahan. Kenapa kita mesti stereotip terhadap sesuatu hal??. Kita harus memahami terlebih dahulu apa itu stereotip.
Secara bebas, stereotip dapat di artikan sebagai suatu upaya baik perkataan maupun pikiran memklaim, atau memberikan cap kepada sesuatu atau seseorang dengan tanpa melihat lebih dalam apa yang telah di cap atau di klaim tersebut.
Kita pasti pernah ketemu dengan orang pelit, tapi kita nggak berhak untuk menyalahkan semua orang yang ada didekatnya. Bagaimana mungkin seseorang yang pelit bisa dilihat dari segi dimana ia dilahirkan. Lingkungan memang membentuk mental dan kepribadian seseorang, tetapi kita bisa mengkambing hitamkan suatu lingkungan dimana seseorang berada sebagai biang kerok keburukan seseorang.
Ketika kita akan dilahirkan ke bumi ini, kita nggak pernah minta dilahirkan di Pidie atau di Aceh Besar bahkan tempat lainnya. Kita juga tidak penah ngomong, “ya Tuhan jangan lahirkan aku dari rahim seorang Batak, atau punya ibu seorang Jawa”. Lingkungan hanya tempat seseorang bertumbuh dan berkembang membentuk karakter dan mental seseorang.
Pelit, sombong, angkuh, serakah, takabur, dan lain-lain merupakan sebagian kecil penyakit sosial yang tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat. Penyakit ini muncul dari ketidakstabilan mental yang ia terima dari lingkungannya.
Stereotip juga salah satu masalah. Dengan stereotip kita akan menganggap diri kita lebih baik dari orang lain. Padahal dengan stereotip, potensi konflik yang akan timbul akan lebih besar dari yang pernah kita bayangkan.
August 27th, 2007 at 12:57 am
U got it right, brother!
Stereotip itu memang memuakkan. Lebih parah dari generalisasi™ yang sering juga kita temui.
Kadang2 yang mengesalkan, itu lebih ke masalah pribadi tapi terbawa-bawa pada generalisir…
August 28th, 2007 at 6:23 pm
generalisasi™
sejak kapan jadi trade marknya.
May 30th, 2008 at 8:24 pm
a matter of luck,